Kamis, 30 Juni 2016

Drowning and Hoping


Man it’s been a long day
Stuck thinking about it driving on the freeway
Wondering if I really tried everything I could
Not knowing if I should try a little harder

Saya gagal.

28 Juni sudah berlalu dan saya gagal.

Sudah 2 hari ini saya merasa ‘tenggelam’. Harapan itu surut. Kini 1 kesempatan yang masih saya genggam adalah jalur Ujian Mandiri. Harapan saya hanya itu. [Jika berharap bukanlah suatu kesalahan].

2016. Saya sudah mengalami 2 kenyataan pahit tahun ini. Pertama saat 7 Mei, saat amplop kelulusan dan ijazah itu saya buka, disana tertera 2 angka yang benar-benar tidak saya inginkan, yang terpaksa menuntut saya untuk memberi sebuah keputusan: perbaikan atau tidak?

Kedua 28 Juni, saat ayah membangunkan saya pukul 14.30. Saya bangun masih dengan perasaan tidak enak karena sudah seharian itu saya diombang-ambing akan sesuatu yang tidak pasti. Beliau ada disana bersama saya. Saat kami menatap layar, tidak ada barcode yang tampak, yang tampak adalah tulisan ‘Mohon maaf, dst’.

Perasaan bersalah.

Kecewa.

Sedih.

Marah.

Tidak ada yang bisa disalahkan. Inilah realita. Menyakitkan, memang.

Les 1 bulan itu sia-siakah? Belajar itu sia-siakah? Semangat dan optimisme itu sia-siakah? Doa itu sia-siakah?

Saya harap tidak.

 “Lyc, gimana lyc?”
“belum beruntung, mau nunggu utul hehehehehe”
“Aku suka jawabanmu! Sangat hopefull. Semangat!”
-          - R

“Nggak usah minder wkwkwk. Banyakin doa aja.”
“Iya mas :)”
“Semangat lyc :) Jo nangis. Tetep tak nteni koe sampai kapanpun wkwkwk”

-          - J

Jumat, 24 Juni 2016

Selasa, 14 Juni 2016

Hidup Baru?


Semua ujian telah saya selesaikan. Buku-buku pelajaran sosial humaniora yang tiap malam saya lahap dalam 1 bulan ini sudah masuk kardus. Demikian dengan kertas-kertas soal tryout.

Teman-teman. Sahabat. Para perantau yang memenuhi kota ini selama 1 bulan mulai bermigrasi, pulang, menuju keluarga mereka.

Tidak ada rutinitas bangun pagi lagi setelah ini. Sekarang saya akan akrab dengan matahari yang sudah tinggi, saat cahayanya menerobos melalui jendela kamar saya. Setidaknya itu terjadi sampai perguruan tinggi meminta saya untuk menghadiri OSPEKnya.

Waktu yang saya habiskan bersama kasur dan smartphone akan semakin banyak. Atau mungkin membaca ulang buku-buku yang sudah lama tidak saya sentuh.

Harapannya saya akan semakin sering menggerakkan jemari saya di atas tuts keyboard dan menatap monitor. Mengeluarkan apa yang saya pendam dalam hati dan dalam otak saya.

Semoga.
6 Juni 2016

Kalyca Kris.


Hari Ini

Hari ini
Lagi lagi aku dicumbu sepi
Hilang akal
Hampa tanpa arah

Hari ini
Tiada suara itu
Suara kawanku
Seperti masa kala itu

Hari ini
Otak kosong
Hanya kebingungan tersisa
Dan ia terus menggerayangi

Hari ini
Berlanjutkah hingga hari-hari esok?

Hari ini
.
.
.
.
.
.
Ya sudahlah

Yogyakarta, 11 Juni 2016