Kamis, 02 Juli 2015

telinganya lelah mendengarkan

cerita malam itu:
A: "mau kuliah dimana kamu besok?"
B: "disini. kalau bisa ya di [menyebutkan salah satu PTN terbaik di kota]"
A: "wah bagus. ambil apa?"
B: "[menyebutkan jurusan]"
A: "hah? nggak salah? kamu kan anak sains."
B: "ya iya. lalu kenapa?"
A: "benar-benar di luar ekspektasi. saya kira kamu bakal ambil jurusan berbau sains. ternyata."
B: "iya, minat saya itu."
A: *tertawa* "saya membayangkan kamu menjadi seorang [menyebut profesi yang tidak sesuai dengan maksud B, bukan cabang jurusan yang dimaksud B]."
B: "lho. bukan yang itu. saya ambil [menyebut cabang jurusan yang tepat]."
A: "Oh itu. atas dasar apa? kamu kan saya lihat tidak banyak bicara, tidak suka cerita."
B: "kan nggak harus banyak bicara kalau mau menjadi [menyebutkan profesi]."
A: "lho? justru harus pandai-pandai bicara untuk itu. tidak cuma [menyebutkan aktivitas yang dilakukan profesi itu]."
B: *inside: apa anda pernah mengalami menjadi profesi itu? kenapa anda bisa bilang seperti itu?* "tapi kan kerjaan utama dia [menyebutkan aktivitas yang dilakukan profesi itu]."
A: "berarti kamu bakal seperti [menyebut nama seorang yang profesinya sama dengan profesi itu] ya? wah kalau dia mah sudah terbukti. dia senang bercerita. makanya sekarang dia bagus dalam pekerjaannya. lha kamu? bicara saja jarang-jarang."
B: *inside: bandingkan saja terus.* "hm."

Orang seperti A sebaiknya diapakan ya?
Menurut B, banyak bualan dikeluarkan dari mulut A.
Kini telinga B sudah lelah mendengarkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar