Jumat, 02 Desember 2016

Ada ujian yang ngangenin? Ada!

Ujian yang ini berbeda. Ujian yang ini entah mengapa menarik ingatan saya untuk kembali ke masa-masa itu. Luar biasa. 

dan,

saya rindu.

Saya rindu membuat DUDU; menggunting kertas, menulisinya, dan menempelkannya ke snack.
Saya rindu berangkat pagi untuk surprise ala-ala; meletakkan DUDU di meja ujian.
Saya rindu ‘sambutan’ DUDU di atas meja ujian saya.
Saya rindu belajar ramai-ramai di koridor dan berakhir dengan tidak ada satupun materi yang nyangkut di ingatan.
Saya rindu doa di kerkhof sepulang ujian.
Saya rindu tidur siang sepulang ujian.
Saya rindu sesi ngobrol sebelum belajar.
Saya rindu menginvasi RT, gazebo, atau kapel dengan tumpukan handout, buku, dan snack.
Saya rindu menyelinap ke dapur aspi malam-malam untuk menyeduh kopi atau sekedar mengambil krupuk.
Saya rindu “Eh bangunin aku jam 10 ya!”, “Bobok sana, nanti tak bangunin jam 12.”, dan kawan-kawannya.
Saya rindu belajar dari selesai refter malam hingga saat ayam mulai berkokok.
Saya rindu tutor sebaya dini hari.
Saya rindu dinginnya udara pagi ditambah mata berat saat harus berangkat misa pagi.
Bahkan saya rindu rasa pening di kepala akibat kurang tidur di saat-saat itu, hahahah.


Ujian Tengah Semester dan Tes Akhir Semester di Van Lith ternyata bisa se-ngangenin ini. he he.

Selasa, 16 Agustus 2016

back to that time, please?

it's August 17th, and now I'm wondering about what I did on the exact day in last three years.

I should be there. Standing with my friends on Lapangan Ijo, yelling and cheering up, singing and dancing to the songs presented by the bands, even moshing haha. Taking part in the competition, or maybe I would selling some foods and drinks, cooking, and helping my team in Dapur Sumber Rejeki 23.

good memories. good old days.

see how Pangudi Luhur Van Lith Muntilan SHS celebrates the Independence Day below.

Date: August 16th-17th 2015
Loc: Pangudi Luhur Van Lith Muntilan SHS, Jl. Kartini No. 1, Muntilan
Time: afternoon 'til drop
Photos by: Surya Adhityas










Kamis, 30 Juni 2016

Drowning and Hoping


Man it’s been a long day
Stuck thinking about it driving on the freeway
Wondering if I really tried everything I could
Not knowing if I should try a little harder

Saya gagal.

28 Juni sudah berlalu dan saya gagal.

Sudah 2 hari ini saya merasa ‘tenggelam’. Harapan itu surut. Kini 1 kesempatan yang masih saya genggam adalah jalur Ujian Mandiri. Harapan saya hanya itu. [Jika berharap bukanlah suatu kesalahan].

2016. Saya sudah mengalami 2 kenyataan pahit tahun ini. Pertama saat 7 Mei, saat amplop kelulusan dan ijazah itu saya buka, disana tertera 2 angka yang benar-benar tidak saya inginkan, yang terpaksa menuntut saya untuk memberi sebuah keputusan: perbaikan atau tidak?

Kedua 28 Juni, saat ayah membangunkan saya pukul 14.30. Saya bangun masih dengan perasaan tidak enak karena sudah seharian itu saya diombang-ambing akan sesuatu yang tidak pasti. Beliau ada disana bersama saya. Saat kami menatap layar, tidak ada barcode yang tampak, yang tampak adalah tulisan ‘Mohon maaf, dst’.

Perasaan bersalah.

Kecewa.

Sedih.

Marah.

Tidak ada yang bisa disalahkan. Inilah realita. Menyakitkan, memang.

Les 1 bulan itu sia-siakah? Belajar itu sia-siakah? Semangat dan optimisme itu sia-siakah? Doa itu sia-siakah?

Saya harap tidak.

 “Lyc, gimana lyc?”
“belum beruntung, mau nunggu utul hehehehehe”
“Aku suka jawabanmu! Sangat hopefull. Semangat!”
-          - R

“Nggak usah minder wkwkwk. Banyakin doa aja.”
“Iya mas :)”
“Semangat lyc :) Jo nangis. Tetep tak nteni koe sampai kapanpun wkwkwk”

-          - J

Jumat, 24 Juni 2016

Selasa, 14 Juni 2016

Hidup Baru?


Semua ujian telah saya selesaikan. Buku-buku pelajaran sosial humaniora yang tiap malam saya lahap dalam 1 bulan ini sudah masuk kardus. Demikian dengan kertas-kertas soal tryout.

Teman-teman. Sahabat. Para perantau yang memenuhi kota ini selama 1 bulan mulai bermigrasi, pulang, menuju keluarga mereka.

Tidak ada rutinitas bangun pagi lagi setelah ini. Sekarang saya akan akrab dengan matahari yang sudah tinggi, saat cahayanya menerobos melalui jendela kamar saya. Setidaknya itu terjadi sampai perguruan tinggi meminta saya untuk menghadiri OSPEKnya.

Waktu yang saya habiskan bersama kasur dan smartphone akan semakin banyak. Atau mungkin membaca ulang buku-buku yang sudah lama tidak saya sentuh.

Harapannya saya akan semakin sering menggerakkan jemari saya di atas tuts keyboard dan menatap monitor. Mengeluarkan apa yang saya pendam dalam hati dan dalam otak saya.

Semoga.
6 Juni 2016

Kalyca Kris.


Hari Ini

Hari ini
Lagi lagi aku dicumbu sepi
Hilang akal
Hampa tanpa arah

Hari ini
Tiada suara itu
Suara kawanku
Seperti masa kala itu

Hari ini
Otak kosong
Hanya kebingungan tersisa
Dan ia terus menggerayangi

Hari ini
Berlanjutkah hingga hari-hari esok?

Hari ini
.
.
.
.
.
.
Ya sudahlah

Yogyakarta, 11 Juni 2016

Kamis, 02 Juli 2015

telinganya lelah mendengarkan

cerita malam itu:
A: "mau kuliah dimana kamu besok?"
B: "disini. kalau bisa ya di [menyebutkan salah satu PTN terbaik di kota]"
A: "wah bagus. ambil apa?"
B: "[menyebutkan jurusan]"
A: "hah? nggak salah? kamu kan anak sains."
B: "ya iya. lalu kenapa?"
A: "benar-benar di luar ekspektasi. saya kira kamu bakal ambil jurusan berbau sains. ternyata."
B: "iya, minat saya itu."
A: *tertawa* "saya membayangkan kamu menjadi seorang [menyebut profesi yang tidak sesuai dengan maksud B, bukan cabang jurusan yang dimaksud B]."
B: "lho. bukan yang itu. saya ambil [menyebut cabang jurusan yang tepat]."
A: "Oh itu. atas dasar apa? kamu kan saya lihat tidak banyak bicara, tidak suka cerita."
B: "kan nggak harus banyak bicara kalau mau menjadi [menyebutkan profesi]."
A: "lho? justru harus pandai-pandai bicara untuk itu. tidak cuma [menyebutkan aktivitas yang dilakukan profesi itu]."
B: *inside: apa anda pernah mengalami menjadi profesi itu? kenapa anda bisa bilang seperti itu?* "tapi kan kerjaan utama dia [menyebutkan aktivitas yang dilakukan profesi itu]."
A: "berarti kamu bakal seperti [menyebut nama seorang yang profesinya sama dengan profesi itu] ya? wah kalau dia mah sudah terbukti. dia senang bercerita. makanya sekarang dia bagus dalam pekerjaannya. lha kamu? bicara saja jarang-jarang."
B: *inside: bandingkan saja terus.* "hm."

Orang seperti A sebaiknya diapakan ya?
Menurut B, banyak bualan dikeluarkan dari mulut A.
Kini telinga B sudah lelah mendengarkannya.